Aroma Luka dan Rindu
Oleh: Mellyan Cutkeumala Nyakman Ada aroma rasa menusuk labirin rindu. Amis, anyir menyatu dengan bau pasir yang tersiram asinnya air laut. Menguarkan aroma aneh. Terasa berat dan pekat. Bulan dan bintang terlihat malu-malu di atas sana. Sepasang mata menatap Lekat. Tiada suatu apapun kecuali aroma rindu dan debur ombak. Tiba-tiba kerlip cahaya tertangkap mata, dari jauh hanya titik-titik kuning yang menyebar. Ketika titik-titik kuning mendekat, ia menyadari itu cahaya kunang-kunang. Mungkin kunang-kunang yang sama yang bermain bersamanya dan Maneh 13 tahun silam, Mungkin juga bukan. Laut sangat ganas malam ini, beberapakali ia harus menghindari ombak besar yang seolah menyeretnya. Lelaki muda itu merebahkan tubuhnya di atas pasir, menikmati sisa malam, betah memandangi gelap. Namun, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang menyelusup di hatinya, rasa itu bergantian menguasai, seolah irama dengan not yang tepat, hingga menghasilkan simfoni luka. Tak terasa matanya basah. Ia...