Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Menanti Kabut di Pucuk Para (4)

Hari berlalu dengan cepat, semuanya berjalan dengan baik, Cudah masih sering menenun, saat purnama ia bersama teman-temannya berkumpul di bawar rumah panggung menyaksikan anak-anak bermain petak-umpet. Meskipun penerang hanya dari obor yang dipasang sekeliling rumah, purnama di atas sana cukup menambah suasana semakin syahdu.   Dalam hidup, selalu ada kejutan-kejutan. Entah itu menyenangkan ataupun menyakitkan. Begitu pula bagi hidup Ceudah, sang Panglima dan tanah mereka.   Tak sampai 40 hari setelah ia mengumpulkan para tetua dan pemuda, di malam ia membacakan kembali aturan adat hutan. Hari ini gampong Ujong Rimba kedatangan tamu, orang-orang itu berpakain rapi, mengenakan berkemeja dan berseragam. Datang jauh-jauh dari Kabupaten menemui sang Panglima. “Jadi ada apa tamu jauh datang bertandang ke gubuk saya,” ujar panglima di seuramoe keu . “Jadi begini, kami ingin menyampaikan program tentang pembukaan lahan baru. Dan kita ingin membuka lahan di daerah sekitar huta...

Menanti Kabut di Pucuk Para (3)

Malam itu udara kering menyapa penduduk Gampong Ujong Rimba, wajah Abah terusik sesuatu. Ia meminta seluruh tetua gampong kembali berkumpul. Mereka kembali mengadakan pertemuan, di Seuramoe keu , kopi-kopi telah dihidangkan. Ubi, ketela, jagung, kacang rebus terhidang. Abah hari itu mengenakan kain sarung dan baju putih. Peci bertengger menutupi rambut yang telah memutih. Sambil menghidangkan minuman dan makanan, Ceudah menangkap pembicaraan mereka. Sekitar 20 petua adat hadir, di antaranya Peutua Seunebok, Keujreun Glee, pawang glee, termasuk beberapa pemuda. Tentu saja Zarkasyi juga hadir. Sebagai anak panglima uteun, ia harus tahu permasalahan hutan. Meskipun nantinya pemilihan panglima uteun ditentukan dari suara terbanyak.   Para wanita berkumpul di Seuramoe Tengah. Mereka menyimak pembicaraan. “Sepertinya kita harus mengulang apa saja adat uteun , adat hutan kita,” ujar Abah dengan suara berat. Kemudian ia membuka lembaran-lembaran kertas yang telah usang. Di dalamn...

Menanti Kabut di Pucuk Para (2)

Rumah panggung itu tak sekedar rumah, tempat Ceudah dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta. R umoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi juga ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Tiang-tiang besar dari kayu terbaik berjumlah 24, menyangga rumah dengan kokohnya. Meskipun tidak menggunakan paku, hanya pasak dan tali pengikat, rumoh Aceh bisa bertahan hingga ratusan tahun. Rumah Aceh juga dibangun berbentuk memanjang dari Timur ke Barat, arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Rumah itu memiliki beberapa ruangan,  seuramoe keue tempat Abah sering menerima tamu-tamu penting,  seuramoe teungoh, ruangan favorit Ceudah, tentunya selain kamar.  Seuramoe likot , dan dapur yang menjadi tempat favorit Ummi. Di dapur, ia sering melihat sang Ibu meracik bumbu-bumbu yang disimpan di dalam pelepah pinang tua. Jika ruangan depan atau s euramoe keue digunakan sebagai ruang ...

HIKAYAT NEGERI TERAPUNG [1]

Gambar
Penduduk Kampung Terapung mendadak begitu kompak, sampai-sampai mereka bersama-sama menjual ayam, menjual persediaan beras, bahkan menggadaikan pukat, satu-satunya barang berharga bagi nelayan.  Pemandangan itu sungguh menggelikan, pasar unggas mereka singgahi untuk menjual ayam, penjual beras mereka paksa untuk membeli beras, sampai yang paling menyedihkan, menggadaikan pukat ke sesama nelayan. Seperti menabur garam di laut, tentu saja hanya penolakan yang mereka terima, namun dengan jurus mengiba-iba dan sedikit rayu-merayu, terjual juga dagangan dadakan itu.  Semua orang tiba-tiba mendadak jadi pedagang, sedangkan pekerjaan mereka sebenarnya nelayan. Kampung itu sedang kasak-kusuk, ada berita terbaru yang membuat penasaran. Semua keganjilan itu dimulai sejak Hasanuddin pulang dari kota. Penampilan laki-laki itu berubah total. Semula ia adalah pria paling miskin dan menyedihkan di kampung itu. Bajunya hanya dua lembar, satu untuk melaut, satu lagi ia paka...

Aroma Luka dan Rindu

Oleh: Mellyan Cutkeumala Nyakman Ada aroma rasa menusuk labirin rindu. Amis, anyir menyatu dengan bau pasir yang tersiram asinnya air laut. Menguarkan aroma aneh. Terasa berat dan pekat. Bulan dan bintang terlihat malu-malu di atas sana. Sepasang mata menatap Lekat. Tiada suatu apapun kecuali aroma rindu dan debur ombak. Tiba-tiba kerlip cahaya tertangkap mata, dari jauh hanya titik-titik kuning yang menyebar. Ketika titik-titik kuning mendekat, ia menyadari itu cahaya kunang-kunang. Mungkin kunang-kunang yang sama yang bermain bersamanya dan Maneh 13 tahun silam, Mungkin juga bukan. Laut sangat ganas malam ini, beberapakali ia harus menghindari ombak besar yang seolah menyeretnya. Lelaki muda itu merebahkan tubuhnya di atas pasir, menikmati sisa malam, betah memandangi gelap. Namun, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang menyelusup di hatinya, rasa itu bergantian menguasai, seolah irama dengan not yang tepat, hingga menghasilkan simfoni luka. Tak terasa matanya basah.   Ia...