Postingan

Hikayat Negeri Terapung [2]

Gambar
<<<<< Cerita Sebelumnya Kisah Sebelumnya: Kampung Terapung yang terletak di Aceh yang tenang tiba-tiba heboh dengan kedatangan Hasanuddin. Pria yang dulu adalah pria paling miskin di kampung itu, datang dari kota dengan dandanan mentereng dan memiliki uang. Rahasianya adalah proposal. Setelah itu, membuat proposal seperti menjadi buruan semua warga kampung. Kecuali Ramlah, seorang ibu tunggal yang harus menghidupi kedua anaknya dengan mencari ikan. Ramlah lahir dari keluarga petani. Ia gadis yang lincah dan periang,  tiap hari membantu orang tua di sawah sepulang sekolah, dan malam hari mengaji. Sebenarnya, cita-citanya sederhana saja, ingin menjadi guru. Orang tuanya mendukung, Namun, saat itu tahun ‘80-an, kampus terdekat letaknya sekitar tujuh jam perjalanan menggunakan angkutan umum, yang ongkosnya setara dengan biaya hidup keluarga itu sebulan.  Masa kanak-kanaknya diawali dengan kelahiran pabrik-pabrik raksasa di kampungnya. Penduduk ...

Menanti Kabut di Pucuk Para (2)

Rumah panggung itu tak sekedar rumah, tempat Ceudah dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta. R umoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi juga ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Tiang-tiang besar dari kayu terbaik berjumlah 24, menyangga rumah dengan kokohnya. Meskipun tidak menggunakan paku, hanya pasak dan tali pengikat, rumoh Aceh bisa bertahan hingga ratusan tahun. Rumah Aceh juga dibangun berbentuk memanjang dari Timur ke Barat, arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Rumah itu memiliki beberapa ruangan,  seuramoe keue tempat Abah sering menerima tamu-tamu penting,  seuramoe teungoh, ruangan favorit Ceudah, tentunya selain kamar.  Seuramoe likot , dan dapur yang menjadi tempat favorit Ummi. Di dapur, ia sering melihat sang Ibu meracik bumbu-bumbu yang disimpan di dalam pelepah pinang tua. Jika ruangan depan atau s euramoe keue digunakan sebagai ruang ...

HIKAYAT NEGERI TERAPUNG [1]

Gambar
Penduduk Kampung Terapung mendadak begitu kompak, sampai-sampai mereka bersama-sama menjual ayam, menjual persediaan beras, bahkan menggadaikan pukat, satu-satunya barang berharga bagi nelayan.  Pemandangan itu sungguh menggelikan, pasar unggas mereka singgahi untuk menjual ayam, penjual beras mereka paksa untuk membeli beras, sampai yang paling menyedihkan, menggadaikan pukat ke sesama nelayan. Seperti menabur garam di laut, tentu saja hanya penolakan yang mereka terima, namun dengan jurus mengiba-iba dan sedikit rayu-merayu, terjual juga dagangan dadakan itu.  Semua orang tiba-tiba mendadak jadi pedagang, sedangkan pekerjaan mereka sebenarnya nelayan. Kampung itu sedang kasak-kusuk, ada berita terbaru yang membuat penasaran. Semua keganjilan itu dimulai sejak Hasanuddin pulang dari kota. Penampilan laki-laki itu berubah total. Semula ia adalah pria paling miskin dan menyedihkan di kampung itu. Bajunya hanya dua lembar, satu untuk melaut, satu lagi ia paka...

Perempuan Ranub

Gambar
Oleh: Mellyan PAPAN peringatan itu dipasang pada lempeng besi. Isinya larangan bagi pedagang kaki lima berjualan di muka Pasar Atjeh dan pintu masuk Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tapi tempat ini selalu ramai pedagang, mulai dari pedagang buah-buahan hingga pakaian. Mereka berebut pembeli. Mereka seperti mengabaikan larangan itu. Di antara pedagang tersebut, ada sejumlah perempuan yang menjual barang yang sama. Jumlahnya lebih dari 15. Sebagian menggunakan gerobak beratap yang seragam. Di Aceh, gerobak itu disebut ‘jambo’. Di bagian atas jambo tertulis “Jambo Ranub Aceh”. Dalam bahasa Indonesia, ranub adalah sirih. Salah satu jambo tadi milik Fatmawati, perempuan asal Sigli, Pidie. Umurnya di atas 50-an. Uban menyembul dari balik selendang ungu yang menutupi kepalanya. Wajahnya penuh keriput. Namun bibirnya tetap saja merah. Bukan karena gincu, tapi akibat kebiasaan mengunyah sirih. Di atas jambonya terdapat kotak kaca yang berisi sirih yang sudah digulung dan dibentuk...

Aroma Luka dan Rindu

Oleh: Mellyan Cutkeumala Nyakman Ada aroma rasa menusuk labirin rindu. Amis, anyir menyatu dengan bau pasir yang tersiram asinnya air laut. Menguarkan aroma aneh. Terasa berat dan pekat. Bulan dan bintang terlihat malu-malu di atas sana. Sepasang mata menatap Lekat. Tiada suatu apapun kecuali aroma rindu dan debur ombak. Tiba-tiba kerlip cahaya tertangkap mata, dari jauh hanya titik-titik kuning yang menyebar. Ketika titik-titik kuning mendekat, ia menyadari itu cahaya kunang-kunang. Mungkin kunang-kunang yang sama yang bermain bersamanya dan Maneh 13 tahun silam, Mungkin juga bukan. Laut sangat ganas malam ini, beberapakali ia harus menghindari ombak besar yang seolah menyeretnya. Lelaki muda itu merebahkan tubuhnya di atas pasir, menikmati sisa malam, betah memandangi gelap. Namun, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang menyelusup di hatinya, rasa itu bergantian menguasai, seolah irama dengan not yang tepat, hingga menghasilkan simfoni luka. Tak terasa matanya basah.   Ia...